Trend . 25/11/2025, 16:54 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Metode pengajaran lembut atau gentle teaching mulai jadi sorotan banyak sekolah. Bukan tanpa alasan, pendekatan ini menciptakan suasana belajar yang lebih aman, hangat, dan mendukung perkembangan psikologis anak. Psikolog klinis Devi Yanti, M.Psi., Psikolog menegaskan bahwa kebutuhan terhadap metode ini justru semakin meningkat.
“Menurut saya gentle teaching bukan hanya relevan, tetapi justru semakin dibutuhkan,” ujarnya dikutip dari ANTARA di Jakarta.
Ucapan ini bukan isapan jempol. Banyak anak mengalami tekanan belajar, relasi yang kurang suportif, dan lingkungan sekolah yang sering terasa mengintimidasi. Akibatnya, kemampuan mereka menyerap pelajaran pun menurun drastis. Di titik inilah pengajaran yang lembut terasa semakin penting.
Devi menjelaskan bahwa anak hanya bisa belajar secara optimal ketika tubuh dan pikiran mereka berada dalam kondisi tenang. Rasa aman merupakan kebutuhan psikologis dasar. Tanpa itu, proses belajar tidak akan berjalan maksimal.
Jika seorang siswa merasa takut, cemas, atau terancam, otaknya langsung masuk ke mode bertahan. Dalam kondisi ini, anak sulit memahami materi, sulit mengelola emosi, dan tidak mampu membangun relasi positif dengan guru maupun teman-temannya.
“Jika anak merasa takut, dipermalukan, atau tidak diterima, maka otak akan bekerja dalam mode bertahan, bukan belajar,” ucap Devi, yang juga pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) wilayah Aceh.
Itu sebabnya, guru memegang peran besar dalam menghadirkan ruang belajar yang aman. Relasi yang hangat antara guru dan siswa bisa menjadi kunci keberhasilan anak dalam menyerap ilmu maupun berkembang secara emosional.
Menurut Devi, pengajaran yang lembut membawa dampak sangat signifikan pada perkembangan anak. Ketika guru berbicara dengan pendekatan yang hangat dan menghargai, anak lebih berani terbuka dan percaya diri dalam menyampaikan pendapat atau bertanya.
Pendekatan ini juga meminimalkan konflik di kelas. Anak merasa lebih nyaman, guru pun bisa mengajar dengan kondisi emosional yang lebih stabil. Alurnya menjadi win-win: suasana kelas lebih kondusif, pembelajaran berjalan lebih efektif.
Tidak hanya itu, interaksi yang positif membuat anak mempercayai gurunya. Kepercayaan ini penting agar anak berani meminta bantuan ketika kesulitan memahami pelajaran atau mengalami masalah pribadi. Dalam jangka panjang, relasi ini membantu membentuk karakter anak menjadi lebih matang secara emosional.
Devi menyarankan beberapa langkah sederhana tetapi berdampak besar:
Guru perlu menghadirkan diri secara utuh di kelas, tidak tergesa-gesa, tidak mudah terpancing emosi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media