Religi . 24/01/2026, 16:11 WIB
Penulis : Sahroni | Editor : Sahroni
fin.co.id - Pembahasan mengenai awal 1 Ramadhan 2026 kini mulai ramai diperbincangkan setelah terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri Nomor 2 dan 5 Tahun 2025 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026.
Dokumen tersebut memang tidak secara langsung menetapkan awal puasa, namun memberi gambaran kasar tentang jadwal Hari Raya Idul Fitri tahun depan, sehingga publik bisa memperkirakan rentang waktu bulan suci.
Dalam SKB itu tercantum bahwa libur nasional Idul Fitri 1447 Hijriah diproyeksikan jatuh pada 20–21 Maret 2026. Dari sana, masyarakat mulai menyusun proyeksi jadwal ibadah, termasuk memperkirakan kapan puasa akan dimulai.
Meski begitu, pemerintah menegaskan bahwa penetapan resmi awal 1 Ramadhan 2026 tetap menunggu sidang isbat yang digelar Kementerian Agama.
Penetapan awal bulan puasa tidak bisa dilepaskan dari sistem kalender Hijriah yang berpatokan pada peredaran bulan. Di Indonesia, ada dua metode utama yang digunakan dalam menentukan awal bulan, yaitu hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal secara langsung).
Kedua pendekatan ini menjadi fondasi dalam menentukan jadwal Ramadhan 2026 secara nasional. Hisab memberikan gambaran ilmiah mengenai posisi bulan, sementara rukyat menjadi verifikasi visual di lapangan. Kombinasi keduanya diharapkan menghadirkan keputusan yang akurat sekaligus sesuai syariat.
Secara global, sejumlah perhitungan kalender Islam memperkirakan 1 Ramadhan 1447 Hijriah berpotensi jatuh pada pertengahan hingga akhir Februari 2026. Namun, kepastian awal 1 Ramadhan 2026 tetap sangat bergantung pada visibilitas hilal saat matahari terbenam di akhir bulan Syakban. Jika hilal belum memenuhi kriteria, maka bulan Syakban akan digenapkan menjadi 30 hari.
Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi yang lebih awal mengumumkan penetapan awal bulan puasa. Melalui maklumat resmi Pimpinan Pusat, Muhammadiyah menetapkan bahwa puasa Ramadhan 1447 Hijriah diperkirakan dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026.
Penentuan ini menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu sistem yang menetapkan awal bulan ketika ijtimak sudah terjadi dan posisi hilal berada di atas ufuk saat matahari terbenam. Dengan metode ini, kepastian awal 1 Ramadhan 2026 versi Muhammadiyah sudah bisa diketahui jauh hari sebelumnya.
Berbeda dengan Muhammadiyah, pemerintah Indonesia menggunakan kriteria yang disepakati bersama negara anggota MABIMS, yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Standar ini mengatur batas minimal ketinggian dan elongasi hilal agar bisa dinyatakan terlihat.
Berdasarkan perhitungan awal, puasa Ramadhan 2026 berpotensi dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026. Namun, ini masih sebatas proyeksi kalender Hijriah pemerintah. Kepastian resmi awal 1 Ramadhan 2026 baru akan ditentukan dalam sidang isbat yang digelar pada 29 Syakban 1447 Hijriah, sekitar 17 Februari 2026. Dalam sidang tersebut, data hisab akan dipadukan dengan hasil rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di Indonesia.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media