Religi . 05/02/2026, 10:19 WIB

Jika Setan Dibelenggu saat Ramadan, Mengapa Masih Ada Maksiat di Muka Bumi?

Penulis : Makruf  |  Editor : Makruf

fin.co.id - Bulan Ramadan dikenal sebagai waktu penuh berkah, ampunan, dan kesempatan memperbaiki diri.

Banyak hadits menyebutkan bahwa pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.

Secara simbolis, ini berarti manusia memiliki peluang lebih besar untuk menahan diri dari maksiat dan memperbanyak amal baik.

Namun kenyataannya, meski setan dibelenggu, perilaku dosa tetap muncul di masyarakat.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: jika setan dibelenggu, mengapa manusia masih tergoda melakukan maksiat?

Pemahaman tentang Belenggu Setan

Belenggu setan bukan berarti manusia sepenuhnya terbebas dari godaan. Dalam perspektif Islam, manusia diberikan akal dan hawa nafsu sebagai ujian.

Setan berfungsi sebagai penggoda eksternal, tetapi hawa nafsu manusia sendiri merupakan sumber godaan internal yang bahkan lebih kuat.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa “hawa nafsu yang tidak terkendali bisa menjadi lebih berbahaya daripada gangguan setan.”

Dengan kata lain, meski setan dibelenggu secara simbolis, manusia tetap menghadapi ujian dari dirinya sendiri.

Disinilah letak tanggung jawab individu: mengendalikan hawa nafsu, menjaga pikiran dan tindakan agar tetap selaras dengan moral dan ajaran agama.

Ujian Manusia selagi Ramadan Berlangsung

Ramadan bukan sekadar waktu bebas dari pengaruh setan, tetapi juga momen melatih disiplin diri dan kesadaran moral.

Kesulitan menahan diri dari maksiat bukan tanda kegagalan bulan suci, melainkan refleksi ujian manusia.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com