Religi . 05/02/2026, 10:19 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Rasulullah SAW bersabda, “Berpuasalah, niscaya kamu akan menjadi kuat menahan hawa nafsu.”
Dalam praktiknya, puasa menuntut seseorang menahan lapar, dahaga, dan dorongan instan lainnya.
Latihan ini secara psikologis meningkatkan kemampuan kontrol diri yang nantinya berpengaruh pada tindakan sehari-hari.
Sehingga, meski godaan tetap ada, manusia belajar memilih perilaku yang lebih bijak.
Selain hawa nafsu, lingkungan sosial turut memengaruhi perilaku. Pergaulan, media, dan tekanan sosial dapat mendorong individu melakukan maksiat, meskipun setan secara simbolis dibelenggu.
Penelitian di Journal of Social and Clinical Psychology menunjukkan bahwa paparan terhadap norma sosial yang permisif terhadap perilaku negatif meningkatkan kemungkinan seseorang berbuat salah.
Hal ini membuktikan bahwa pengaruh eksternal tetap signifikan, sehingga pengendalian diri secara internal menjadi lebih penting daripada sekadar faktor spiritual simbolik.
Ilmu psikologi modern menekankan konsep self-regulation, yaitu kemampuan individu mengendalikan dorongan internal demi tujuan jangka panjang.
Studi di Behavioral Science Journal menemukan bahwa orang yang melatih kesadaran diri dan refleksi moral memiliki resistensi lebih tinggi terhadap godaan, baik dari lingkungan maupun dorongan internal.
Konsep ini sejalan dengan ajaran Islam mengenai puasa: bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga memperkuat kesadaran diri dan moral.
Meskipun setan dibelenggu saat Ramadan, maksiat tetap muncul karena manusia menghadapi godaan internal dari hawa nafsu dan pengaruh eksternal dari lingkungan sosial.
Ramadan berfungsi sebagai sarana untuk melatih disiplin diri, meningkatkan kesadaran moral, dan mengasah kontrol terhadap dorongan negatif.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media