Trend . 27/02/2026, 08:13 WIB
Penulis : Ari Nur Cahyo | Editor : Ari Nur Cahyo
Budim
Istilah lain yang tak kalah populer adalah 'budim'. Kata ini merupakan akronim atau kependekan dari "buka diam-diam". Penggunaan budim cenderung lebih modern dan sering muncul dalam percakapan di kota-kota besar. Maknanya tetap sama, yaitu perilaku tidak jujur dalam menjalankan ibadah puasa demi menghindari teguran atau rasa malu dari lingkungan sekitar.
Mokah
Dalam Ensiklopedia Bahasa dan Sastra (EBS) terbitan Kemendikdasmen, terdapat pula istilah 'mokah'. Istilah ini memiliki intensitas makna yang lebih kuat, yakni membatalkan puasa secara sadar dan sengaja melalui aktivitas makan atau minum. Meski jarang terdengar di kota besar, mokah tetap menjadi bagian dari khazanah kekayaan bahasa daerah di nusantara.
Mengapa Istilah Ini Terus Eksis?
Kehadiran istilah-istilah seperti mokel, godin, dan budim menunjukkan betapa dinamisnya bahasa Indonesia dalam menyerap realitas sosial. Ramadan bukan hanya soal ritual ibadah, tetapi juga menciptakan subkultur bahasa yang unik. Istilah ini bertahan karena masyarakat membutuhkan kata yang "ringan" untuk menggambarkan perilaku menyimpang dari norma ibadah tanpa harus terdengar terlalu menghakimi atau kasar.
Memahami makna mokel dan kawan-kawannya membantu kita melihat bagaimana bahasa bekerja sebagai cermin budaya. Meskipun istilah ini bersifat informal, keberadaannya dalam kamus resmi seperti KBBI membuktikan bahwa fenomena sosial ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas masyarakat Indonesia saat menyambut bulan suci.
Kini, setiap kali Anda mendengar kata mokel di linimasa media sosial, Anda sudah tahu bahwa itu bukan sekadar kata tanpa makna, melainkan serapan budaya yang memiliki akar sejarah dan linguistik yang kuat di tanah air. Tetaplah konsisten menjalankan ibadah dan hindari menjadi subjek dari istilah-istilah di atas agar makna kemenangan di hari Idulfitri terasa lebih sempurna.(*).
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media