Jika kalori masuk tetap tinggi sementara pengeluaran energi menurun, keseimbangan energi menjadi positif, dan berat badan naik.
Gangguan Pola Tidur dan Hormon
Ramadan sering kali mengubah ritme sirkadian tubuh. Tidur menjadi terfragmentasi karena bangun dini hari untuk sahur dan mungkin tidur kembali setelah subuh.
Gangguan tidur dapat memengaruhi hormon pengatur nafsu makan, yaitu ghrelin dan leptin. National Sleep Foundation menjelaskan bahwa kurang tidur cenderung meningkatkan ghrelin (hormon lapar) dan menurunkan leptin (hormon kenyang). Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah lapar dan cenderung memilih makanan tinggi kalori.
Dengan kata lain, kurang tidur dapat membuat kontrol makan menjadi lebih sulit.
Pilihan Menu Sahur yang Kurang Tepat
Sahur yang didominasi karbohidrat sederhana seperti nasi putih dalam porsi besar, mi instan, atau roti manis dapat menyebabkan rasa lapar datang lebih cepat di siang hari.
Sebaliknya, makanan tinggi serat dan protein membantu menjaga rasa kenyang lebih lama. Dalam laporan British Journal of Nutrition tentang peran protein terhadap rasa kenyang, dijelaskan bahwa asupan protein yang cukup dapat membantu mengontrol nafsu makan dan mendukung manajemen berat badan.
Jika sahur tidak seimbang, kecenderungan untuk makan berlebihan saat berbuka akan meningkat.
Frekuensi Makan Tambahan Setelah Tarawih
Selain berbuka dan sahur, sering kali ada tambahan camilan setelah salat tarawih. Tanpa disadari, ini menjadi sesi makan ketiga dengan asupan kalori signifikan.
Kue kering, makanan ringan, dan minuman manis yang dikonsumsi sambil bersantai bisa menambah ratusan kalori ekstra setiap malam. Jika pola ini berlangsung selama 30 hari, kenaikan berat badan menjadi sangat mungkin terjadi.
Faktor Psikologis dan Sosial
Ramadan identik dengan kebersamaan. Undangan buka bersama hampir setiap minggu dapat memicu konsumsi makanan berlebih. Dalam suasana sosial, kontrol porsi sering kali terabaikan.
Selain itu, ada persepsi bahwa puasa otomatis menurunkan berat badan, sehingga sebagian orang merasa “aman” untuk makan lebih banyak saat berbuka.