Mengapa Berat Badan Justru Naik setelah Puasa Ramadan

lifestyle.fin.co.id - 11/03/2026, 10:27 WIB

Mengapa Berat Badan Justru Naik setelah Puasa Ramadan

Timbangan, Image: SHVETS Production / Pexels

fin.co.id - Puasa Ramadan sering dianggap sebagai momen yang tepat untuk menurunkan berat badan. Selama sekitar satu bulan, umat Islam menahan diri dari makan dan minum sejak fajar hingga matahari terbenam. Secara logika sederhana, pembatasan waktu makan tersebut seharusnya membuat asupan kalori berkurang dan berat badan menurun.

Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak orang justru menyadari bahwa berat badan mereka meningkat setelah Ramadan berakhir. Fenomena ini cukup umum terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia, dan telah menjadi perhatian para ahli gizi.

Kenaikan berat badan setelah Ramadan umumnya berkaitan dengan pola makan yang berubah drastis selama bulan puasa, terutama jenis makanan yang dikonsumsi saat berbuka dan sahur.

Perubahan Pola Makan Selama Ramadan

Selama Ramadan, pola makan masyarakat mengalami perubahan yang cukup signifikan. Jika biasanya makan dilakukan tiga kali sehari dengan waktu yang relatif teratur, selama puasa waktu makan menjadi terbatas pada dua periode utama, yaitu sahur dan berbuka.

Perubahan ini sering kali membuat orang cenderung mengonsumsi makanan dalam jumlah lebih besar ketika waktu berbuka tiba. Setelah seharian menahan lapar, banyak orang memilih makanan tinggi energi untuk segera mengembalikan tenaga.

Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, makanan yang disajikan saat berbuka sering kali berupa makanan manis, gorengan, dan hidangan berkalori tinggi. Kebiasaan ini dapat menyebabkan asupan energi harian justru meningkat dibandingkan hari biasa.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition and Metabolism menunjukkan bahwa selama Ramadan banyak individu mengalami peningkatan konsumsi gula dan lemak, terutama saat berbuka puasa. Kondisi ini dapat mengimbangi bahkan melebihi kalori yang “dihemat” selama waktu berpuasa.

Peran Makanan Tinggi Kalori dan Lemak

Jenis makanan yang dikonsumsi memiliki pengaruh besar terhadap perubahan berat badan selama Ramadan. Banyak makanan populer saat berbuka atau sahur yang sebenarnya memiliki kandungan kalori sangat tinggi.

Di Indonesia, misalnya, gorengan menjadi hidangan yang hampir selalu hadir di meja berbuka. Makanan berbasis tepung yang digoreng dalam minyak memiliki kandungan lemak dan kalori tinggi. Jika dikonsumsi dalam jumlah besar secara rutin, kalori dari makanan tersebut dapat dengan cepat menumpuk.

Selain itu, minuman manis juga menjadi bagian penting dari tradisi berbuka. Sirup, minuman berbasis gula, dan berbagai dessert manis sering kali dikonsumsi dalam jumlah besar. Padahal, gula tambahan merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap peningkatan berat badan.

Organisasi kesehatan global seperti World Health Organization menekankan bahwa konsumsi gula tambahan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas dan berbagai penyakit metabolik.

Efek Makanan Lebaran dan Masa Liburan

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID