fin.co.id - Mengakhiri hubungan yang tidak sehat sering kali terdengar mudah. Namun pada kenyataannya, banyak orang justru kesulitan mengambil keputusan meski sudah menyadari berbagai tanda bahaya dalam hubungan tersebut.
Psikolog klinis Dra. A. Kasandra Putranto menegaskan bahwa keselamatan diri harus menjadi prioritas utama ketika seseorang memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang sudah mengarah pada perilaku berbahaya.
Menurutnya, seseorang tidak boleh menyepelekan tanda-tanda seperti pasangan yang agresif, mengontrol, mengintimidasi, hingga membuat korban merasa takut. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hubungan sudah tidak lagi sehat dan berpotensi membahayakan.
"Ketika sebuah hubungan menunjukkan banyak tanda bahaya, terutama jika sudah mengarah pada perilaku agresif, mengontrol, mengintimidasi, atau membuat seseorang merasa takut, maka keselamatan diri perlu menjadi prioritas utama," ujar Kasandra dikutip dari ANTARA, Kamis 25 Juni 2026.
Jangan Putus di Tempat Sepi Jika Pasangan Bersikap Agresif
Kasandra menjelaskan bahwa keputusan mengakhiri hubungan harus mempertimbangkan kondisi pasangan. Jika pasangan pernah melakukan tindakan agresif, mengancam, menguntit, atau menunjukkan emosi yang tidak stabil, proses perpisahan sebaiknya dilakukan di tempat yang aman.
Ia juga menyarankan agar seseorang tidak menghadapi situasi tersebut sendirian. Kehadiran orang yang dipercaya dapat memberikan rasa aman sekaligus mengurangi potensi terjadinya tindakan yang membahayakan.
Dengan memilih lokasi yang aman dan mendapatkan dukungan dari orang terdekat, risiko yang mungkin muncul setelah keputusan berpisah dapat diminimalkan.
Bangun Sistem Pendukung Sebelum Mengambil Keputusan
Sebelum benar-benar mengakhiri hubungan, Kasandra menyarankan setiap orang untuk membangun sistem pendukung atau support system yang kuat.
Langkah tersebut dapat dilakukan dengan memberi tahu keluarga, sahabat, atau orang terpercaya mengenai rencana mengakhiri hubungan. Dukungan sosial menjadi sangat penting karena pasangan yang memiliki kecenderungan mengontrol biasanya berusaha membuat korbannya merasa terisolasi.
Dalam banyak kasus, pelaku berusaha menciptakan ketergantungan emosional sehingga korban merasa tidak memiliki tempat bergantung selain dirinya. Akibatnya, korban menjadi semakin sulit mengambil keputusan secara mandiri.
Korban Sering Kehilangan Kepercayaan Diri
Kasandra menjelaskan bahwa korban dalam hubungan yang tidak sehat kerap mengalami penurunan rasa percaya diri. Situasi ini membuat mereka merasa ragu terhadap keputusan yang sebenarnya ingin diambil.
Menurutnya, hubungan yang mengandung unsur kontrol koersif dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menentukan pilihan, termasuk saat ingin mengakhiri hubungan.