Trend . 25/10/2026, 14:31 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Fenomena Hunter’s Moon atau Bulan Pemburu akan menghiasi langit pada 26 Oktober 2026. Masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di Jakarta, bisa menyaksikan bulan purnama ini mulai petang. Namun, ada waktu tertentu yang perlu diperhatikan agar pengamatan berlangsung lebih optimal.
Hunter’s Moon merupakan istilah tradisional untuk bulan purnama yang muncul setelah Harvest Moon atau Bulan Panen. Fenomena ini umumnya berkaitan dengan bulan Oktober, meskipun pada kondisi tertentu kemunculannya dapat bergeser ke November.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa Hunter’s Moon tidak memiliki perbedaan fisik dengan bulan purnama biasa. Keistimewaannya terletak pada latar belakang budaya serta karakteristik yang melekat pada fenomena tersebut.
“Fenomena Hunter’s Moon tidak memiliki perbedaan fisik dengan bulan purnama biasa, tetapi memiliki latar belakang budaya dan karakteristik unik,” ujar Ayu dalam keterangan resmi BMKG, Jumat, 23 Oktober 2026.
Nama Hunter’s Moon berasal dari tradisi penduduk asli Amerika, khususnya suku Algonquian, serta pemukim awal Eropa. Jika Harvest Moon menandai masa panen, Hunter’s Moon mengisyaratkan periode berburu untuk mengumpulkan persediaan makanan sebelum musim dingin tiba.
Pada masa itu, masyarakat memanfaatkan kondisi alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setelah masa panen berakhir, ladang yang menyisakan hasil pertanian menarik perhatian sejumlah hewan, termasuk rusa dan rubah. Hewan-hewan tersebut datang untuk mencari sisa makanan di area ladang.
Situasi ini memberikan kesempatan bagi para pemburu untuk mencari hewan sekaligus menambah persediaan makanan. Cahaya bulan purnama juga membantu mereka melihat lingkungan sekitar dan melacak hewan pada malam hari.
Jadwal Hunter’s Moon 26 Oktober 2026 di Jakarta
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan Bulan Pemburu, mengetahui jadwal kemunculannya menjadi langkah penting. Berikut waktu pengamatan Hunter’s Moon di Jakarta.
Masyarakat dapat menikmati fenomena ini tanpa peralatan pelindung khusus. Ayu menjelaskan bahwa Hunter’s Moon aman dilihat secara langsung dengan mata telanjang.
“Fenomena Hunter’s Moon aman dilihat dengan mata tanpa perlu pelindung khusus,” ungkap Ayu.
Di balik fenomena langit yang menarik, masyarakat pesisir juga perlu memperhatikan potensi kenaikan permukaan air laut selama fase purnama. BMKG mengingatkan bahwa kondisi ini dapat memicu pasang purnama dan meningkatkan risiko banjir rob di sejumlah wilayah pesisir.
Pasang purnama terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus atau hampir lurus. Susunan posisi ketiga benda langit tersebut menghasilkan gaya gravitasi gabungan yang memengaruhi pasang surut air laut.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media