Trend . 29/09/2025, 10:13 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Jika seseorang terus-menerus menahan gas, fungsi alami usus terganggu. Akibatnya, buang air besar menjadi lebih sulit, perut terasa tidak tuntas, bahkan sembelit bisa lebih sering muncul.
Menahan gas melibatkan kontraksi otot panggul. Jika kontraksi ini dilakukan terlalu sering, otot bisa melemah. Kondisi ini berisiko membuat kemampuan mengontrol buang angin berkurang seiring bertambahnya usia.
Beberapa hal membuat dampak menahan gas terasa lebih berat. Misalnya, konsumsi makanan fermentasi, minuman berkarbonasi, atau makanan tinggi lemak. Selain itu, kebiasaan makan terburu-buru menyebabkan udara ikut masuk lebih banyak.
Stres juga menjadi faktor penting karena bisa memperlambat gerakan usus. Orang dengan masalah pencernaan seperti maag atau sindrom iritasi usus biasanya lebih sensitif terhadap efek gas yang tertahan.
Mengeluarkan gas memang terasa memalukan jika terjadi di tempat yang salah. Namun, ada cara untuk mengelola agar tidak menimbulkan gangguan:
Atur pola makan dengan mengurangi makanan pemicu gas
Minum cukup air untuk melancarkan sistem pencernaan
Kunyah makanan perlahan agar udara yang tertelan lebih sedikit
Lakukan aktivitas ringan setelah makan untuk membantu gas bergerak keluar
Cari waktu atau tempat pribadi agar bisa buang angin dengan aman
Dengan langkah sederhana ini, tubuh tetap bisa menjalankan fungsinya tanpa harus menahan tekanan berlebih.
Kentut adalah mekanisme alami yang menunjukkan bahwa pencernaan bekerja normal. Dengan mengeluarkan gas, tubuh menjaga tekanan di usus tetap seimbang. Jika gas terus tertahan, keseimbangan ini akan terganggu.
Selain itu, gas juga berkaitan dengan aktivitas bakteri baik di dalam usus. Ketika kita membiarkan gas keluar, artinya proses fermentasi berjalan normal. Sebaliknya, menahannya justru membuat tubuh kesulitan mengatur proses pencernaan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media