Trend . 08/01/2026, 14:02 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Salah satu terobosan menarik dari diskusi ini adalah pergeseran pandangan terhadap material baja. Dulu, baja mungkin identik dengan bangunan industri yang kaku dan panas. Namun, teknologi material modern telah mengubah segalanya.
Kini, baja menjadi medium utama untuk menciptakan harmoni antara manusia dan alam. Jenny Margiano, Country President PT NS BlueScope Indonesia, mengungkapkan keunggulan baja modern yang mendukung ekonomi sirkular.
Material ini bisa didaur ulang hingga 100% tanpa menurunkan kualitasnya. Fleksibilitasnya juga memungkinkan desain ventilasi alami, sangat ideal untuk iklim tropis seperti Indonesia. Struktur baja yang tangguh juga memberikan perlindungan ekstra terhadap gempa bumi.
Untuk mendorong inovasi lebih jauh, simposium ini juga meluncurkan Steel Architectural Awards ASEAN 2026. Kompetisi bergengsi ini akan mencari karya arsitektur paling inovatif di ASEAN, yang mampu menerapkan prinsip keberlanjutan pada hunian, komersial, hingga infrastruktur publik.
Dewan juri yang terdiri dari ahli papan atas akan menilai proyek berdasarkan responsnya terhadap konteks lokal. Penilaian tidak lagi hanya soal keindahan visual, tetapi sejauh mana bangunan memberikan dampak positif jangka panjang bagi komunitas.
Steve Woodland dari COX Architecture Australia mengingatkan, teknologi baja berlapis bisa menjadi jawaban atas kerumitan desain masa depan. Dengan mengombinasikan warisan budaya lokal dan teknologi modern, kita bisa menciptakan ruang hidup yang indah sekaligus bertanggung jawab terhadap bumi.
Apakah kamu siap melihat wajah kota kita berubah menjadi lebih hijau dan tangguh? Masa depan arsitektur ASEAN kini ada di tangan para inovator yang berani menerapkan "sentuhan lembut" pada setiap pembangunan. Mari kita nantikan karya-karya luar biasa yang akan lahir dari semangat keberlanjutan ini. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media