Trend . 13/02/2026, 10:38 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Selama Ramadan, banyak orang menghabiskan waktu malam dengan ponsel atau televisi setelah berbuka. Paparan cahaya biru dari layar dapat menekan produksi melatonin, hormon yang mengatur rasa kantuk.
Harvard Medical School dalam publikasinya tentang pengaruh cahaya terhadap tidur menjelaskan bahwa cahaya biru dapat menggeser jam biologis dan membuat seseorang lebih sulit tertidur. Usahakan menghentikan penggunaan gawai setidaknya 30–60 menit sebelum tidur.
Makan berat terlalu dekat dengan waktu tidur dapat mengganggu kualitas istirahat. Lambung yang masih aktif bekerja akan membuat tubuh sulit mencapai fase tidur dalam.
Hindari makanan tinggi lemak dan terlalu pedas menjelang tidur. Selain memicu gangguan pencernaan, kondisi ini juga dapat memperburuk kualitas tidur. Jika masih lapar setelah tarawih, pilih camilan ringan seperti buah atau yogurt.
Kualitas tidur tidak hanya ditentukan oleh durasi, tetapi juga oleh lingkungan. Pastikan kamar:
Gelap
Tenang
Sejuk
Bebas gangguan suara
Gunakan tirai tebal jika cahaya pagi masuk terlalu cepat. Suhu ruangan yang nyaman membantu tubuh lebih cepat memasuki fase tidur nyenyak.
Ramadan sering diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan ibadah tambahan. Namun, penting untuk mengenali batas kemampuan tubuh. Tidak semua aktivitas harus dilakukan setiap malam jika mengorbankan kesehatan.
Keseimbangan antara ibadah, pekerjaan, dan istirahat akan membuat Ramadan terasa lebih stabil dan produktif. Tubuh yang cukup tidur justru mendukung konsentrasi dalam beribadah.
Pola tidur yang amburadul selama Ramadan bukan hal yang tidak bisa dihindari. Dengan jadwal yang konsisten, tidur singkat yang terencana, pengaturan konsumsi makanan, serta pembatasan paparan layar, kualitas istirahat tetap dapat dijaga.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media