Pada pagi hari ini, kaum Muslimin yang menunaikan ibadah haji sebagai tamu Allah SWT, dhuyufurrahman, telah berkumpul melaksanakan wuquf di 'Arafah dan sedang berada di Mina untuk melaksanakan Jumratul 'Aqabah. Mereka dengan pakaian ihramnya, berasal dari berbagai belahan dunia. Mereka datang dengan latar belakang bangsa, ras, warna kulit, budaya dan strata sosial yang berbeda satu sama lain. Namun, mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu memenuhi panggilan Allah SWT untuk menjadi tamu-Nya dan bertauhid meng-Esakan Allah SWT semata.
Bagi kaum Muslimin yang belum memiliki kemampuan menjadi tamu Allah SWT, mereka melaksanakan shalat Idul Adha dan ibadah qurban, sesuai dengan kemampuannya di manapun mereka berada. Ibadah qurban yang dilaksanakan kaum muslimin, sebagai salah satu upaya mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.
Deskripsi kehidupan kaum muslimin ini, menggambarkan interelasi kuat antara orang yang menunaikan ibadah haji, dengan saudara-saudaranya yang tidak pergi ke Baitullah. Oleh karena itu, kita melaksanakan shalat Idul Adlha dan ibadah kurban pada hakikatnya sebagai bentuk kesadaran memenuhi perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd. Kaum Muslimin sidang jama'ah Idil Adha rahimakumullah.
Ibadah qurban merupakan salah satu ibadah penting dalam ajaran Islam. Ibadah ini memiliki pondasi kuat dan memiliki akar sejarah panjang dalam tradisi rasul-rasul terdahulu. Ajaran qurban dan praktiknya telah ditunjukkan secara sinergik oleh para nabi dan rasul hingga Nabi Muhammad SAW Nabi Ibrahim AS. dikenal sebagai peletak batu pertama ibadah ini. Peristiwa penyembelihan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS terhadap putranya Nabi Isma'il AS merupakan dasar bagi adanya ibadah kurban. Nabi Ibrahim AS dengan penuh iman dan keikhlasan bersedia untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail hanya semata-mata untuk memenuhi perintah Allah SWT. Peristiwa yang mengharukan ini, dilukiskan dengan indah oleh Allah SWT dalam Alquran surat as-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّيْ أَرَى فِيْ المَنَامِ أَنِّيْ أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَآأَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَآءَ اللهُ مِنَ الصَابِرِيْنَ
"Tatkala anak itu sampai umurnya dan sanggup berusaha bersamasama Ibrahim. Ibrahim berkata ; Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu. la menjawab, wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Peristiwa Nabi Ibrahim AS yang rela menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, merupakan salah satu ujian ketaatan paling agung dalam sejarah kenabian. Momen ini menjadi tonggak sejarah penting yang kelak dianjurkan untuk dikenang dan diteladani umat Islam dalam bentuk penyembelihan hewan qurban pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah dan hari-hari tasyrik, yakni 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Lebih dari sekadar perintah penyembelihan, kisah ini sarat makna spiritual. Ia mengajarkan nilai-nilai luhur seperti keteguhan iman, keyakinan terhadap kebenaran perintah Allah, keikhlasan, serta kesabaran dalam menjalani perintah-Nya. Nabi Ibrahim AS tidak menjalankan perintah Allah karena taqlid buta, melainkan karena keyakinan mendalam bahwa setiap titah Allah adalah kebenaran yang harus dipatuhi sepenuh hati.
Allah SWT menjadikan perintah tersebut sebagai cermin dan ujian bagi umat setelahnya: sejauh mana manusia sanggup mengorbankan sesuatu yang dicintainya—diri, keluarga, maupun harta benda—demi menjalankan perintah Ilahi dan menunaikan amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah,
Dalam kajian fiqh, ibadah qurban dikenal pula dengan istilah udhhiyah, yang merujuk pada penyembelihan hewan di waktu pagi hari saat matahari mulai naik (dhuha). Ibn Qayyim al-Jauziyah menafsirkan qurban sebagai tindakan mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih hewan ternak pada waktu tersebut, sebagai bentuk upaya meraih ridha-Nya.