Trend . 23/09/2025, 10:11 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Sebuah survei dari American Psychological Association pada 2021 menyebutkan 67 persen pasangan mengalami penurunan kepuasan emosional setelah tahun kelima. Meski begitu, sebagian besar tetap bertahan karena faktor lain, seperti anak, stabilitas hidup, dan nilai komitmen.
Sejak dahulu, pernikahan bukan hanya tentang cinta. Antropologi menunjukkan pernikahan berfungsi sebagai institusi sosial. Ia menyatukan keluarga, memperkuat aliansi, dan memberikan struktur pada masyarakat. Di banyak budaya, orang menikah karena norma sosial mendorongnya.
Ekonomi juga berperan besar. Menurut penelitian di Inggris tahun 2018, pasangan yang menikah memiliki peluang 25 persen lebih besar untuk mencapai stabilitas finansial dibanding pasangan yang hanya hidup bersama. Selain itu, pernikahan memberi kerangka hukum yang jelas dalam pengasuhan anak.
Pertanyaan utama mengapa orang menikah bukan sekadar karena cinta romantis. Lebih dari itu, pernikahan melambangkan komitmen jangka panjang. Ketika dua individu memutuskan menikah, mereka bersepakat untuk saling mendukung melewati suka dan duka.
Studi dari Harvard Study of Adult Development menemukan bahwa kualitas hubungan jangka panjang, bukan kekayaan atau popularitas, yang paling berpengaruh terhadap kebahagiaan hidup. Pasangan yang saling mendukung secara emosional cenderung lebih sehat secara fisik dan mental.
Pernikahan juga menjadi identitas sosial. Dalam banyak masyarakat, status menikah memberi pengakuan dan legitimasi. Bagi sebagian orang, hal ini sama pentingnya dengan rasa cinta itu sendiri.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media