Trend . 23/09/2025, 10:11 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Meski fase kasmaran berkurang, pasangan bisa membangun kedekatan dengan cara lain. Aktivitas bersama seperti traveling, olahraga, atau sekadar memasak dapat memperbarui rasa keintiman.
Komunikasi menjadi fondasi penting. Pasangan yang rutin berbicara tentang perasaan, kebutuhan, dan rencana masa depan memiliki peluang lebih besar untuk menjaga hubungan tetap harmonis.
Kehidupan selalu berubah. Pasangan yang mampu beradaptasi dengan kondisi baru, seperti perubahan karier atau pola hidup, akan lebih tahan menghadapi tantangan.
Antropolog dari University of Oxford menemukan bahwa pernikahan memberikan keuntungan evolusioner. Anak-anak yang lahir dari orang tua menikah cenderung mendapat perawatan lebih baik, sehingga peluang bertahan hidup meningkat. Hal ini menjelaskan mengapa pernikahan bertahan sebagai institusi penting hingga kini.
Menurut Pew Research Center tahun 2020, 88 persen orang di 27 negara masih menganggap pernikahan sebagai institusi penting meski angka perceraian meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa orang menikah bukan hanya karena cinta, tetapi karena kebutuhan sosial, ekonomi, dan emosional.
Cinta memang sering memudar setelah lima tahun pertama, namun ikatan pernikahan lebih dari sekadar perasaan romantis. Ia mencakup komitmen, rasa aman, tanggung jawab sosial, serta tujuan bersama dalam membangun keluarga. Maka, menjawab pertanyaan mengapa orang menikah, jawabannya terletak pada gabungan antara kebutuhan emosional, sosial, dan praktis yang lebih luas dibanding sekadar cinta.
Banyak penelitian menunjukkan fase intens cinta romantis berlangsung sekitar 2 hingga 5 tahun. Setelah itu, cinta berubah bentuk menjadi ikatan yang lebih dalam.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media