Trend . 27/10/2026, 09:21 WIB

Sering Mendengkur saat Tidur? Kenali Penyebab dan Risiko Kesehatannya

Penulis : Makruf  |  Editor : Makruf

fin.co.id - Suara dengkuran yang terdengar setiap malam sering kali dianggap sebagai bagian normal dari kebiasaan tidur. Sebagian orang bahkan baru mengetahui dirinya mendengkur setelah diberi tahu pasangan atau anggota keluarga. Meski tidak selalu berbahaya, kebiasaan ini dapat menjadi petunjuk bahwa terdapat gangguan pada saluran pernapasan yang perlu diperhatikan.

Mendengkur terjadi ketika aliran udara melewati saluran pernapasan bagian atas yang mengalami penyempitan. Udara tersebut membuat jaringan lunak di sekitar tenggorokan bergetar hingga menghasilkan suara. Intensitasnya bisa berbeda-beda, mulai dari dengkuran pelan yang hanya terdengar sesekali hingga suara keras yang mengganggu orang lain.

Hal yang perlu dipahami adalah mendengkur bukan ukuran kualitas tidur. Seseorang yang tampak tidur pulas dan tidak terbangun pada malam hari tetap mungkin mengalami gangguan pernapasan ketika tidur. Karena itu, mengenali penyebab, gejala penyerta, dan waktu yang tepat untuk mencari pertolongan medis menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan.

Faktor yang Membuat Seseorang Mendengkur

Mendengkur dapat dipicu oleh kondisi yang relatif ringan maupun gangguan yang membutuhkan penanganan medis. Penyebabnya berkaitan dengan bentuk saluran pernapasan, kondisi jaringan di sekitarnya, serta kebiasaan sehari-hari.

Relaksasi Otot Selama Tidur

Ketika memasuki fase tidur, otot-otot tubuh menjadi lebih rileks. Perubahan ini juga terjadi pada otot yang membantu menjaga saluran pernapasan tetap terbuka. Pada sebagian orang, relaksasi tersebut menyebabkan ruang aliran udara menyempit sehingga jaringan lunak di sekitar tenggorokan lebih mudah bergetar.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa seseorang dapat bernapas tanpa suara ketika terjaga, tetapi mulai mendengkur setelah tertidur. Perbedaan posisi jaringan dan tingkat aktivitas otot selama tidur dapat mengubah kelancaran aliran udara.

Posisi Tidur yang Kurang Tepat

Tidur telentang dapat memperburuk dengkuran pada orang tertentu. Dalam posisi tersebut, lidah dan jaringan lunak di sekitar tenggorokan dapat bergerak ke belakang akibat gravitasi, sehingga ruang pernapasan menjadi lebih sempit.

Sebaliknya, tidur miring dapat membantu mengurangi dengkuran yang dipengaruhi posisi tubuh. Namun, cara ini tidak selalu efektif bagi semua orang, terutama apabila terdapat gangguan pernapasan saat tidur atau kelainan anatomi yang mendasarinya.

Berat Badan Berlebih

Jaringan lemak yang menumpuk di sekitar leher dapat memberikan tekanan pada saluran pernapasan. Akibatnya, ruang yang dilalui udara menjadi lebih sempit dan kemungkinan terjadinya dengkuran meningkat.

Berat badan berlebih juga merupakan salah satu faktor risiko obstructive sleep apnea, yaitu gangguan ketika saluran pernapasan bagian atas berulang kali menyempit atau tertutup selama tidur. Meski demikian, kondisi ini juga dapat dialami oleh orang dengan berat badan normal.

Hidung Tersumbat dan Alergi

Gangguan pada hidung dapat memengaruhi kelancaran pernapasan selama tidur. Alergi, pilek, peradangan, atau masalah struktur hidung dapat menyebabkan penyumbatan yang membuat seseorang lebih mudah mendengkur.

Jika dengkuran hanya muncul ketika mengalami pilek dan kemudian menghilang setelah hidung kembali lega, penyebabnya mungkin berkaitan dengan gangguan sementara tersebut. Namun, hidung tersumbat yang berlangsung lama perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.

Mendengkur Tidak Selalu Berarti Tidur Nyenyak

Anggapan bahwa orang yang mendengkur sedang tidur sangat pulas tidak sepenuhnya benar. Dengkuran justru dapat muncul akibat hambatan aliran udara, dan pada kondisi tertentu, hambatan tersebut dapat mengganggu proses tidur yang normal.

Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah obstructive sleep apnea atau OSA. Gangguan ini terjadi ketika saluran pernapasan bagian atas berulang kali menyempit atau tertutup saat seseorang tidur. Akibatnya, pernapasan dapat berkurang atau berhenti sementara sebelum tubuh kembali berusaha mengambil udara.

Episode tersebut dapat terjadi berkali-kali sepanjang malam. Penderitanya mungkin tidak mengingat kejadian tersebut karena gangguan kesadaran yang singkat untuk memulihkan pernapasan tidak selalu disadari.

Kualitas tidur yang terganggu dapat menyebabkan seseorang merasa tidak segar ketika bangun meskipun telah berada di tempat tidur selama berjam-jam. Pada siang hari, kondisi ini dapat memicu rasa kantuk, sulit berkonsentrasi, perubahan suasana hati, dan penurunan kewaspadaan.

Meski mendengkur keras merupakan salah satu gejala yang umum ditemukan pada OSA, suara dengkuran saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan jika terdapat kecurigaan terhadap gangguan tersebut.

Hubungan Mendengkur dengan Tekanan Darah dan Jantung

Mendengkur biasa tidak serta-merta menandakan adanya penyakit jantung. Namun, apabila dengkuran berkaitan dengan OSA, gangguan pernapasan yang terjadi berulang kali dapat memengaruhi berbagai sistem tubuh, termasuk sistem kardiovaskular.

Ketika aliran udara terhambat, kadar oksigen dalam darah dapat menurun. Tubuh merespons dengan mengaktifkan mekanisme saraf dan hormonal yang membantu memulihkan pernapasan. Aktivasi berulang selama malam hari dapat meningkatkan beban fisiologis pada tubuh dan berkontribusi terhadap gangguan pengaturan tekanan darah.

Penelitian medis menemukan hubungan antara OSA dengan hipertensi, gangguan irama jantung, serta peningkatan risiko sejumlah penyakit kardiovaskular. Namun, hubungan ini tidak berarti bahwa setiap orang yang mendengkur pasti mengalami atau akan mengembangkan penyakit tersebut.

Risiko kesehatan dipengaruhi oleh tingkat keparahan gangguan tidur, kondisi medis yang menyertai, dan faktor risiko lain. Oleh sebab itu, mendengkur yang disertai jeda napas atau keluhan kelelahan berlebihan sebaiknya tidak dianggap sebagai masalah suara semata.

Penanganan OSA yang tepat dapat membantu memperbaiki gangguan pernapasan dan kualitas tidur. Dokter akan menentukan pendekatan yang sesuai berdasarkan hasil evaluasi, bukan hanya berdasarkan keras atau pelannya dengkuran.

Tanda-Tanda Mendengkur yang Perlu Diwaspadai

Tidak semua dengkuran memerlukan penanganan khusus. Dengkuran yang muncul sesekali akibat hidung tersumbat atau posisi tidur tertentu dapat berkurang setelah pemicunya diatasi. Namun, terdapat beberapa gejala yang perlu mendapat perhatian lebih serius.

Pertama, dengkuran terdengar keras dan terjadi hampir setiap malam. Kedua, orang yang tidur terlihat berhenti bernapas sejenak, kemudian kembali mengambil napas dengan suara tersedak atau terengah-engah. Ketiga, orang tersebut sering terbangun dengan sensasi seperti kekurangan udara.

Tanda lainnya adalah sakit kepala ketika bangun pagi, mulut kering, rasa kantuk berlebihan pada siang hari, serta kesulitan mempertahankan konsentrasi. Kombinasi gejala tersebut dapat mengarah pada dugaan gangguan pernapasan saat tidur.

Pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan apabila gejala berlangsung berulang kali. Dokter dapat mengevaluasi riwayat tidur, kondisi hidung dan tenggorokan, berat badan, serta faktor risiko lain. Jika diperlukan, pemeriksaan tidur atau sleep study dapat dilakukan untuk menilai pola pernapasan, kadar oksigen, dan gangguan yang terjadi selama tidur.

Seseorang yang mengalami kantuk berat ketika berkendara juga perlu menghindari aktivitas tersebut sampai kondisinya dievaluasi. Kantuk berlebihan dapat menurunkan kewaspadaan dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Langkah yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Mendengkur

Mengurangi mendengkur perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Beberapa perubahan kebiasaan dapat membantu, tetapi tidak semuanya cukup untuk mengatasi gangguan pernapasan yang lebih serius.

Mengubah Posisi Tidur

Bagi orang yang lebih sering mendengkur ketika tidur telentang, mencoba tidur miring dapat menjadi langkah awal. Posisi tersebut dapat membantu mengurangi penyempitan saluran pernapasan yang dipengaruhi gravitasi.

Jika dengkuran tetap keras atau disertai tanda gangguan pernapasan, perubahan posisi tidur tidak seharusnya menjadi satu-satunya upaya penanganan.

Menangani Masalah Hidung

Mengatasi alergi atau penyumbatan hidung dapat membantu memperbaiki aliran udara pada orang yang mendengkur akibat gangguan hidung. Penanganan dapat berupa penghindaran pemicu alergi atau terapi yang disarankan dokter sesuai penyebabnya.

Penggunaan obat tidak boleh dilakukan secara sembarangan, terutama jika penyumbatan berlangsung lama atau disertai gejala lain.

Menjaga Berat Badan dan Kebiasaan Tidur

Bagi orang dengan berat badan berlebih, penurunan berat badan secara bertahap dapat membantu mengurangi faktor yang mempersempit saluran pernapasan. Selain itu, jadwal tidur yang teratur dan waktu istirahat yang cukup dapat mendukung kualitas tidur.

Menghindari alkohol menjelang tidur juga dapat membantu karena alkohol dapat membuat otot di sekitar saluran pernapasan lebih rileks dan memperburuk dengkuran pada sebagian orang.

Mempertimbangkan Terapi Medis

Jika mendengkur disebabkan oleh OSA, dokter dapat merekomendasikan terapi sesuai tingkat keparahan dan kondisi pasien. Salah satu pilihan yang umum adalah continuous positive airway pressure atau CPAP, perangkat yang mengalirkan udara bertekanan untuk membantu menjaga saluran pernapasan tetap terbuka selama tidur.

Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan alat oral yang dirancang untuk membantu mengatur posisi rahang dan lidah. Pilihan terapi ditentukan berdasarkan evaluasi medis, sehingga penggunaan alat antidendengkur tanpa mengetahui penyebabnya belum tentu memberikan hasil yang sesuai.

Penutup

Mendengkur merupakan fenomena yang umum terjadi saat tidur, tetapi penyebab dan dampaknya tidak selalu sama pada setiap orang. Posisi tidur, hidung tersumbat, perubahan otot selama tidur, dan berat badan dapat memengaruhi munculnya dengkuran. Dalam kondisi tertentu, suara tersebut juga dapat menjadi petunjuk adanya obstructive sleep apnea.

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa OSA bukan sekadar gangguan suara ketika tidur. Kondisi ini dapat mengganggu kualitas istirahat, menurunkan kewaspadaan pada siang hari, serta berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi dan gangguan kardiovaskular.

Karena itu, kebiasaan mendengkur yang terjadi secara rutin, terutama jika disertai jeda napas, suara tersedak, atau kantuk berlebihan, perlu dievaluasi oleh tenaga medis. Mengenali gejala sejak dini dapat membantu seseorang memperoleh penanganan yang sesuai dan menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

Referensi

  1. National Heart, Lung, and Blood Institute. Sleep Apnea.

  2. Mayo Clinic. Snoring: Symptoms and Causes.

  3. American Academy of Sleep Medicine. International Classification of Sleep Disorders, Third Edition, Text Revision.

  4. American Heart Association. Obstructive Sleep Apnea and Cardiovascular Disease.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com