Astindo Khawatir Ekonomi Pariwisata Lesu Jika Study Tour Dilarang atau Dibatasi

Astindo Khawatir Ekonomi Pariwisata Lesu Jika Study Tour Dilarang atau Dibatasi

Bus Trans Putera Fajar usai ubah bodi Discovery menjadi JetBus 3 SHD-(Dokumen Kemenhub)-

FIN.CO.ID - Kecelakaan bus Pariwisata Trans Putera Fajar yang membawa rombongan siswa SMK, kini tengah menjadi sorotan banyak orang.

Kecelakaan di Subang Ciater menambah deretan peristiwa kecelakaan bus pariwisata, sehingga sejumlah pemerintah kota maupun kabupaten mengeluarkan surat edaran.

Merespon hal itu Ketua DPD Travel Agent Indonesia (Astindo) Jawa Barat, Joseph Sugeng Irianto mengungkapkan, study tour seharusnya tidak dilarang atau di batasi guna meningkatkan ekonomi lokal.

"Kalau patokannya untuk pertumbuhan ekonomi lokal, justru dengan adanya pembatasan seperti itu nanti Jawa Barat tidak akan berkembang kalau semua melakukan hal yang sama. misalkan provinsi Jogja, kan tidak akan ada pergerakan perekonomian kalau disitu situ saja (tidak ada wisatawan luar kota)," ungkap Joseph kepada fin.co.id, Rabu 15 Mei 2024.

Menurutnya, Study Tour sangat diperlukan sebagai sarana edukasi bagi para siswa, serta dapat mengenalkan betapa beragamnya kebudayaan di Indonesia.

"Kalau sudah beranjak pendidikan menengah, itu perlu sebuah perbandingan. jadi tidak hanya apa yang ada di kota tersebut, misalkan di bandung ada tangkuban perahu, bisa kita study banding ke gunung Bromo, sama sama gunung tapi tipikalnya beda, dari banyak aspek segala macam," jelasnya.

BACA JUGA :

Agar peristiwa kecelakaan study tour tidak kembali terulang, Joseph menghimbau menghimbau kepada pihak sekolah untuk lebih bijak lagi memilih travel agent.

"Jadi pasar membutuhkan yang murah, munculah ini penyelenggara yang main dengan angka yang rendah. atau si penyelenggara ini butuh kuota (peserta), butuh uang, dia berani jual rugi. Atau bahkan kasarnya, dia berani melakukan tindak kriminal menipu," kaya Joseph.

Travel ilegal yang menyelenggarakan study tour berani jual harga murah, karena tidak mengikuti regulasi yang telah di atur oleh pemerintah.

"Sekarang ini banyak orang merasa mampu melakukan itu dan menghitung dengan harga murah, nah iming-imingnya harga murah. Kenapa murah, mungkin dia tidak terafiliasi dengan pajak, kami kan bayar pajak dan kewajiban lain," ucapnya.

Maka dirinya mengingatkan pada pihak sekolah, untuk lebih ketat memastikan legalitas resmi travel dan jangan hanya tertarik dengan harga murah.

"Kita juga mengedukasi masyarakat, supaya jangan terlalu mudah tergiur harga murah. Kami dari Astindo juga mengedukasi masyarakat, apabila akan memakai jasa travel agent harus menanyakan legalitas," tutupnya.

Tuahta Aldo

Tentang Penulis

DAPATKAN UPDATE BERITA TEKNO LAINNYA DI

google news icon

Sumber:

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan Redaksi FIN
Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.